Sabtu, 10 Januari 2015

evaluasi media pembelajaran

       I.            PENDAHULUAN

            Evaluasi merupakan bagian integral dari suatu proses intruksional, sedangkan evaluasi media pembelajaran adalah  untuk mengetahui apakah media yang digunakan dalam proses belajar mengajar tersebut dapat mencapai tujuan. Penilaian yang dapat digunakan dalam mengevaluasi media adalah evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
            Dalam evaluasi sumatif ada beberapa tahap yang dikaji, 1) evaluasi satu lawan satu (one to one), 2) evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), 3) evaluasi lapangan (field evaluation).
            Menurut Walker dan Has memberikan berbagai kriteria dalam mereview perangkat lunak media pengajaran yang berdasarkan kepada kualitas.

    II.            RUMUSAN MASALAH

1.      Apa tujuan dari evaluasi media pembelajaran?
2.      Apa pengertian dari evaluasi formatif dan evaluasi sumatif?
3.      Apa macam-macam evaluasi sumatif?
4.      Apa macam-macam kriteria media pembelajaran?









 III.            PEMBAHASAN
A.    Tujuan Evaluasi Media Pembelajaran
Secara termonologi evaluasi pendidikan adalah proses kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan dan usaha untuk mencari umpan balik bagi penyempurnaan pendidikan. Menurut Edwind Wandt dan Gerald W.Brown (1977) mengatakan bahwa evaluasi pendidikan adalah “evaluation refer to the act of process to determining the value of something”. Sesuatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dan sesuatu.
Dari pendapat yang dikemukakan oleh Edwind Wandt dan Gerald W.Brown yang memberikan definisi tentang evaluasi pendidikan itu sendiri dapat diartikan suatu tindakan atau kegiatan (yang dilaksanakan dengan maksud untuk) atau suatu proses (yang berlangsung dalam rangka) menentukan nilai dari segala seesuatu didalam dunia pendidikan (yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan atau yang terjadi dilapangan pendidikan. Sedangakan evaluasi media pembelajaran yang dimaksudkan adalah untuk mengetahui apakah media yang digunakan dalam proses belajar mengajar dapat mencapai tujuan.
Evaluasi media pembelajaran bertujuan untuk mengetahui apakah media yang digunakan dalam proses belajar mengajar tersebut dapat mencapai tujuan proses evaluasi. Proses evaluasi merupakan bagian integral suatu proses instruksional, idealnya keaktifan pelaksanaan proses intruksional diukur dari dua aspek, yaitu:
1.      Bukti bukti empiris mengenai hasil belajar siswa yang dihasilkan oleh sistem instruksional.
2.      Bukti bukti yang menunjukan berapa banyak konstribusi (sumbangan) media atau media program terhadap keberhasilan dan keefektivan proses intruksional itu.
Evaluasi tentang kedua aspek tersebut masih terasa sulit untuk dikerjakan saat ini karena sering kali program media tidak bekerja sebagai bagian integral dari keseluruhan proses pengajaran. Apabila media dirancang sebagai bagian integral dari proses pengajaran, ketika mengadakan evaluasi terhadap pengajaran itu sudah termasuk pula evaluasi terhadap media yang digunakan.[1]

B.     Pengertian Evaluasi Formatif dan Evaluasi Sumatif
Cara yang dapat digunakan dalam mengevaluasi media pembelajaran adalah evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
1)      Evaluasi Formatif
Adalah suatu proses untuk mengumpulkan data tentang aktivitas dan efisiensi penggunaan media yang digunakan dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Data yang diperoleh akan digunakan untuk mempebaiki dan menyempurnakan media yang bersangkutan agar dapat digunakan lebih efektif dan efisien. Setelah diperbaiki dan disempurnakan, kemudian diteliti kembali apakah media tersebut layak digunakan atau tidak dalam situasi-situasi tertentu. Evaluasi semacam inilah yang disebut dengan evaluasi formatif.
2)      Evaluasi Sumatif
Ada tiga tahapan dalam evaluasi sumatif yaitu,
a) evaluasi satu lawan satu (one to one)
b) evaluasi kelompok kecil (small group evaluation)
c) evaluasi lapangan (field evaluation). [2]
Pada tahapan evaluasi satu lawan satu (one to one) dipilih 2 orang atau lebih yang dapat mewakili populasi dari target media yang dibuat, media disajikan kepada siswa secara individual, kepada orang yang terpilih tersebut, satu diantaranya mempunyai kemampuan dibawah rata-rata dan satunya lagi diatas rata-rata. Prosedur pelaksanaannya sebagai berikut :
a.          Jelaskan kepada siswa bahwa anda sedang merancang suatu media baru dan ingin mengetahui bagaimana reaksi mereka terhadap media yang anda buat tersebut.
b.         Katakan kepada mereka bahwa apabila nanti mereka berbuat salah bukanlah karena kekurangan mereka tetapi karena kekurang sempurnaan media tersebut, sehingga perlu diperbaiki.
c.           Usahakan mereka bersikap rileks, bebas mengemukakan pendapatnya tentang media tersebut.
d.          Berikan tes awal untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dan pengetahuan siswa terhadap topik yang dimediakan.
e.          Sajikan media dan catat berapa lama waktu yang anda butuhkan atau dibutuhkan siswa untuk menyajikan/mempelajari media tersebut. Catat pula bagaimana reaksi siswa dan bagian-bagian yang sulit untuk difahami; apakah contoh-contohnya, penjelasannya, petunjuk-petunjuknya, ataukah yang lain.
f.           Berikan tes yang mengukur keberhasilan media tersebut (post test) dan,
g.          Analisis informasi yang terkumpul. Setelah prosedur diatas dilakukan, maka akan diperoleh beberapa informasi seperti kesalahan pemilihan kata atau uraian yang kurang jelas, kesalahan memilih lambang-lambang visual, contoh yang kurang, terlalu banyak atau terlalu sedikit materi yang disajikan, urutan penyajian yang keliru, pertanyaan atau petunjuk yang kurang jelas, tujuan yang tidak sesuai dengan materi, dan sebagainya.
               Selanjutnya evaluasi kelompok kecil (small group evaluation) dilakukan kepada 10-20 orang siswa yang dapat mewakili populasi target. Siswa yang dipilih tersebut hendaknya dapat mewakili populasi. Usahakan siswa yang dipilih tersebut terdiri dari siswa-siswa yang kurang pandai, sedang, dan yang pandai, terdiri dari siswa laki-laki dan siswa perempuan yang terdiri dari berbagai latar belakang (latar belakang pendidikan sosial orang tua, dan sebagainya).
a.       Jelaskan bahwa media tersebut pada tahap formatif dan memerlukan umpan balik untuk menyempurnakannya.
b.      Berikan tes awal (pretest) untuk mengukur kemampuan dan pengetahuan siswa tentang topik yang disediakan.
c.       Sajikan media atau minta kepada siswa untuk mempelajari media tersebut
d.       Catat waktu yang diperlukan dan semua bentuk umpan balik (langsung atau tak langsung) selama penyajian media.
e.       Berikan tes untuk mengetahui sejauh mana tujuan bisa tercapai (post test).
f.        Bagikan kuesioner dan minta siswa untuk mengisinya. Apabila mungkin adakan diskusi yang mendalam dengan beberapa siswa. Beberapa pertanyaan yang perlu diajukan antara lain; menarik-tidaknya media tersebut, apa sebabnya; mengerti tidaknya siswa akan pesan yang disampaikan; konsistensi tujuan dan materi program;cukup tidaknya latihan dan contoh yang diberikan. Apabila pertanyaan kuesioner telah dijawab maka informasi yang lebih detil dapat ditanyakan lewat diskusi ini; dan 
g.      Analisis data-data yang terkumpul[3]
         Merupakan tahap akhir dari evaluasi sumatif, melakukan evaluasi lapangan (field evaluation). Untuk itu diusahakan situasi yang mirip dengan situasi yang sebenarnya, dalam pelaksanaannya dipilih 30 orang siswa dengan berbagai karakteristik yang meliputi tingkat kepandaian kelas, latar belakang, jenis kelamin, usia, kemajuan belajar, dan sebagainya. Usahakan agar dihindari dari pengaruh efek halo (hallo effect). Pada situasi semacam ini informasi yang diperoleh banyak dipengaruhi oleh sifat kebetulan sehingga hasilnya kurang dapat dipercaya.
Ada beberapa prosedur yang harus dilakukan dalam pelaksanaannya, sebagai berikut:
a.       Pilih siswa sebayak 30 orang yang betul-betul mewakili populasi. Jelaskan kepada siswa maksud uji coba lapangan dan hasil akhir yang diharapkan.
b.       Usahakan siswa bersikap relaks/santai dan berani mengeluarkan pendapat atau penilaian. Ingatkan kepada mereka bahwa uji coba bukan menguji kemapuan mereka.
c.       Berikan tes awal untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan mereka mengenai topik yang menggunakan media tersebut.
d.       Sajikan media yang sesuai dengan rencana pembuatannya.
e.       Catat semua respon yang muncul dan waktu yang diperlukan dari siswa selama penyajian.
f.        Lakukan postes (tes akhir) untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa setelah penyajian media tersebut. Hasil tes akhir dibandingkan dengan tes awal yang digunakan untuk mengetahui efektivitas dan efesiensi media yang dibuat tersebut.
g.       Edarkan tes skala sikap kepada siswa yang dipilih tersebut untuk mengetahui sikap mereka terhadap media yang digunakan.
h.      Lakukan analisa terhadap data yang diperoleh melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan, terutama mengenai keampuan awal pretes, skor tes awal dan tes akhir, waktu yang diperlukan, perbaikan dari bagian-bagian yang sulit, pengajaran serta kecepatan sajian dan sebagainya.[4]

C.     Kriteria Evaluasi Media Pembelajaran
Beberapa kriteria dalam mengevaluasi media pembelajaran yang perlu diperhatikan antara lain adalah:
1)      Relevan dengan tujuan pendidikan atau pembelajaran.
2)      Persesuain dengan waktu, tempat, alat-alat yang tersedia, dan tugas pendidik
3)      Persesuaian dengan jenis kegiatan yang tercakup dalam pendidikan
4)      Menarik perhatian peserta didik.
5)      Maksud dan tujuan dari media pembelajaran harus dapat dipahami oleh peserta didik
6)      Sesuai dengan kecakapan dan pribadi pendidik yang bersangkutan
7)      Kesesuaian dengan pengalaman atau tingkat belajar yang dirumuskan dalam silabus.
8)      Keaktualan (tidak ketinggalan zaman).
9)      Cakupan isi materi atau pesan yang ingin disampaikan.
10)  Skala dan ukuran.
11)  Bebas dari  ras, suku dan gender[5]

 IV.            KESIMPULAN
       Penilaian yang dapat digunakan dalam mengevaluasi media adalah evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
            Dalam evaluasi sumatif ada beberapa tahap yang dikaji, 1) evaluasi satu lawan satu (one to one), 2) evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), 3) evaluasi lapangan (field evaluation).


    V.            PENUTUP
            Demikianlah makalah yang kami sampaikan, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Oleh karena itu, kami meminta kritik dan sarannya untuk membangun perbaikan makalah kami selanjutnya. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.


























DAFTAR PUSTAKA


        Arsyad, Azhar. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
  Asnawir dan Usman, Basyiruddin. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers.
        http://multazam-einstein.blogspot.com/2013/07/makalah-evaluasi-media-pembelajaran.html, diakses pada tanggal 14 november 2013, pukul 09:22.





















[1] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta:PT RajaGrafindo Persada,2003), hlm. 173
[2] Asnawir, Drs. M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran,(Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 167

[4] Prof. Dr. H. Asnawir, Drs. M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran,(Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 169-170

makalah karakteristik ips


I.     PENDAHULUAN
Bagi pembangunan bangsa, pendidikan karakter sangat penting. Ketika bangsa Indonesia bersepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945, para bapak pendiri bangsa (the founding fathers) menyadari bahwa paling tidak ada tiga tantangan besar yang harus dihadapi. Pertama, adalah mendirikan negara yang bersatu dan berdaulat, kedua, adalah membangun bangsa, dan ketiga, adalah membangun karakter. Ketiga hal tersebut secara jelas tampak dalam konsep negara (nation-state) dan pembangunan karakter bangsa (nation and character building).
Salah satu kompetensi seorang guru profesional adalah kemampuan dalam mengorganisir materi pembelajaran. Untuk melakukan hal tersebut, guru hendaknya memiliki keterampilan bagaimana merancang pembelajaran tersebut sesuai dengan karakteristik siswa, kondisi lingkungan sekolah dan masyarakat sekitarnya.
Penguasaan dan pengembangan karakteristik IPS sangat penting bagi guru, karena siswa sekolah menengah diharapkan telah memiliki kemampuan berfikir abstrak dan parsial serta berpikir analitis. Dalam makalah ini diuraikan tentang karakteristik pendidikan IPS yang akan menjadi dasar dan sumber pembelajaran, khususnya dalam pengorganisasian materi yang diselenggarakan guru.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian karakteristik IPS?
B.     Apa saja karakteristik yang ada dalam IPS?

III.             PEMBAHASAN
A.           Pengertian Karakteristik IPS
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) karakter merupakan sifat–sifat kejiwaan, akhlak atau budi pakerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik dan terejawentahkan dalam perilaku (Kementerian Pendidikan Nasional, 2010). Nilai-nilai yang unik, baik itu kemudian dalam Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025 dimaknai sebagai tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik dan nyata berkehidupan baik.
Scerenko (1997) mendefinisikan karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis dan kompleksitas mental seseorang, suatu kelompok atau bangsa.[1]

B.     Karakteristik yang ada dalam IPS
1.      Pengetahuan (Knowledge)
Setiap orang memiliki wawasan tentang pengetahuan sosial yang berbeda-beda. Ada yang berpendapat bahwa pengetahuan sosial meliputi peristiwa yang terjadi di lingkungan masyarakat tertentu. Ada pula yang mengemukakan bahwa pengetahuan sosial mencakup keyakinan-keyakinan dan pengalaman belajar siswa. Secara konseptual, pengetahuan (Knowledge) hendaknya mencakup: (1) Fakta; (2) Konsep; dan (3) Generalisasi yang dipahami oleh siswa.
a.        Fakta
Fakta adalah data spesifik tentang peristiwa, objek, orang, dan hal–hal yang terjadi (peristiwa). Dalam pembelajaran IPS, diharapkan dapat mengenal beberapa jenis fakta khususnya yang terkait dengan kehidupannya.
Contoh fakta yang dapat di belajarkan kepada siswa kelas 1, misalnya, sebagai berikut:
·         Ada sepuluh siswa di kelas yang memiliki pensil gambar
·         Siswa perempuan berjmlah dua puluh orang
·         Siswa laki–laki bermain bola dihari minggu
b.        Konsep
Konsep adalah kata–kata atau frase yang mengelompok, berkategori, dan memberi arti terhadap kelompok fakta yang berkaitan.Konsep dasar yang relevan untuk pembelajaran IPS diambil terutama dari disiplin ilmu-ilmu sosial. Konsep–konsep tersebut pada jenjang dan kelas sekolah, misalnya konsep “keluarga” dapat diambil dari konsep antropologi, sosiologi, bahkan ekonomi. Konsep–konsep ini muncul karena adanya kepedulian dan presepsi sosial serta munculnya permasalahan sosial yang semakin kompleks. Hal ini telah di pandang sebagai cara alternatif dalam mengorganisasikan konsep–konsep IPS.
c.         Generalisasi
Generalisasi adalah suatu ungkapan/pernyataan dari dua atau lebih konsep yang saling terkait. Generalisasi memiliki tingkat kompleksitas isi, disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Misalnya, semakin bertambah usia seseorang, semakin berbeda dalam kemampuan bekerja. Pengembangan konsep dan generalisasi merupakan proses mengorganisir dan memaknai sejumlah fakta dan cara hidup bermasyarakat. Memperkenalkan informasi baru yang dapat mendorong siswa untuk merumuskan generalisasi merupakan cara yang baik untuk mengkondisikan terjadinya proses belajar bagi siswa. Dengan informasi baru, para siswa dapat mengubah dan memperbaiki generalisasi yang telah dirumuskannya terdahulu.

2.      Keterampilan (Skills)
Kecakapan mengolah dan menerapkan informasi merupakan keterampilan yang sangat penting untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang mampu berpartisisai secara cerdas dalam masyarakat demokratis. Oleh karena itu, berikut diuraikan sejumlah keterampilan yang diperlukan sehingga menjadi unsur dalam karakteristik IPS dalam proses pembelajaran, antara lain yaitu :
a.        Keterampilan meneliti
Keterampilan ini diperlukan untuk mengumpulkan dan mengolah data. Penelitian harus mencakup hal–hal berikut ini :
1)        Mengidentifikasi dan mengungkapkan masalah atau isu
2)        Mengumpulkan atau mengolah data
3)        Menafsirkan dan menganalisis data
4)        Menilai bukti-bukti yang ditemukan
5)        Menyimpulkan
6)        Menerapkan hasil temuan dalam konteks yang berbeda
7)        Membuat pertimbangan nilai
b.        Keterampilan berpikir
Untuk mengembangkan keterampilan berfikir pada siswa, perlu ada penguasaan terhadap bagian–bagian yang lebih khusus dari keterampilan berfikir tersebut serta melatihnya dikelas. Beberapa keterampilan berpikir yang perlu dikembangkan oleh guru dikelas untuk para siswa, antara lain :
1)        Mengkaji dan menilai data secara kritis
2)        Merencanakan
3)        Merumuskan faktor sebab dan akibat
4)        Memprediksi hasil dari sesuatu kegiatan atau peristiwa
5)        Menyarankan apa yang akan ditimbulkan dari suatu peristiwa atau perbuatan
c.         Keterampilan partisipasi sosial
Dalam belajar IPS, siswa perlu dibejalarkan bagaimana berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain. Dengan adanya partisipasi siswa dapat lancar menyampaikan pendapatnya kepada orang lain. Beberapa keterampilan berpartisipasi sosial yang perlu dibelajarkan guru pada siswa yaitu :
1)        Menunjukan rasa hormat dan perhatian kepada orang lain
2)        Berbagi tugas dan pekerjaan dengan orang lain
3)        Berbuat efektif sebagai anggota kelompok
4)        Mengambil berbagai peran kelompok
5)        Menerima kritik dan saran
6)        Menyesuaikan kemampuan dengan tugas yang harus diselesaikan
d.        Keterampilan berkomunikasi
Pengembangan keterampilan komunikasi merupakan aspek yang apling penting dari pendekatan  pembelajaran IPS khususnya dalam inkuiri sosial. Setiap siswa perlu diberi kesempatan untu mengungkapkan pemahaman dan perasaannya secara jelas, efektif, dan kreatif. Seorang guru hendaknya selalu mendorong para siswa untuk gagasannya dalam bentuk lain, seperti dalam film, drama, seni (suara, tari, lukis), pertunjukan, foto, bahkan dalam bentuk peta.[2]

3.      Nilai dan Sikap (Values and Attitudes)
Pada hakikatnya, nilai adalah sesuatu yang berharga. Nilai yang dimaksud disini adalah seperangkat keyakinan atau prinsip perilaku yang telah mempribadi dalam diri seseorang atau kelompok masyarakat tertentu yang terungkap ketika berpikir atau bertindak. Umumnya, nilai dipelajari sebagai hasil dari pergaulan atau komunikasi antar individu dalam kelompok seperti keluarga, himpunan keagamaan, kelompok masyarakat atau persatuan dari orang–orang yang satu tujuan.[3] Sedangkan sikap adalah kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak objek berdasarkan nilai yang dianggapnya baik atau tidak baik.[4]
4        faktor dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu
1)      Normatifist, yakni kepatuhan terhadap norma-norma hukum.
2)      Integralist, yakni kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran dengan pertimbangan–pertimbangan yang rasional.
3)      Fenomenalist, yakni kepatuhan berdasarkan suara hati.
4)      Hedonist, yakni kepatuhan berdasarkan diri sendiri.[5]
Heterogenitas nilai ini tentu menimbulkan masalah tersendiri bagi guru dalam pembelajaran IPS di kelas. Nilai dapat masuk ke dalam masyarakat dan tidak mungkin steril dari isu–isu yang menerpa masyarakat demokratis. Agar ada kejelasan dalam mengkaji nilai masyarakat, maka nilai dapat dibedakan sebagai berikut :
a.        Nilai Substantif
Nilai substantif adalah keyakinan yang telah dipegang oleh seseorang dan umumnya hasil belajar, bukan sekedar menenamkan atau menguraikan informasi semata. Setiap orang memiliki keyakinan atau pendapat yang berbeda-beda sesuai dengan keyakinannya tentang suatu hal. Misalnya, seorang anggota keluarga akan berbeda pandangannya terhadap nilai hidup berkeluarga.
Dalam mempelajari nilai substantif, para siswa perlu memahami proses–proses, lembaga–lembaga, dan aturan– aturan untuk memecahkan konflik dalam masyarakat demokratis. Dengan kata lain, siswa perlu mengetahui bahwa ada keragamanan nilai dalam masyarakat dan mereka perlu mengetahui isi nilai dan implikasi dari nilai-nilai tersebut.
Manfaat lain dari belajar nilai substantif adalah siswa akan menyatakan bahwa dirinya memiliki nilai tertentu. Guru harus menjelaskan bahwa siswa membawa nilai yang beragam ke kelas sesuai latar keluarga, agama, atau budaya. Selain itu guru perlu menyadari pula bahwa nilai yang dia anut tidak semuanya berlaku secara universal.
b.        Nilai prosedural
Nilai prosedural yang perlu dilatih atau dibelajarkan antara lain nilai kemerdekaan, toleransi, kejujuran, menghormati kebenaran dan menghargai pendapat oang lain.
Hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan partisipasi siswa secara efektif dan diharapkan semakin memahami kondisi masyarakat indonesia yang beraneka ragam, maka siswa perlu mengenal dan berlatih menerapkan nilai-nilai tersebut.[6]
Gulo ( 2005 ) menyimpulkan tentang nilai, sebagai berikut :
1)        Nilai tidak diajarkan tetapi diketahui dari penampilannya
2)        Pengembangan domain efektif pada nilai tidak  bisa dipisahkan dari aspek kognitif dan psikomotorik
3)        Masalah nilai merupakan masalah emosional, sehingga dapat berubah, berkembang, jadi siswa bisa dibimbing.[7]
4)         
4.      Tindakan (Action)
Tindakan sosial  merupakan dimensi PIPS yang penting karena tindakan dapat memungkinkan siswa menjadi peserta didik yang aktif. Merekapun dapat belajar berlatih secara konkrit dan praktis. Dengan belajar dari pada yang diketahui dan terpikirkan tentang isu–isu sosial untuk dipecahkan sehingga jelas apa yang akan dilakukan dan bagaimana caranya, para siswa belajar menjadi warga negara yang efektif dimasyarakat.
Dimensi tindakan sosial dapat dibelajarkan pada semua jenjang dan semua tingkatan kelas kurikulum IPS. Dimensi tindakan sosial untuk pembelajaran IPS meliputi tiga model aktivitas sebagai berikut:
5)        Percontohan kegiatan dalam memecahkan masalah dikelas seperti cara bernegosiasi dan bekerjasama.
6)        Berkomunikasi dengan anggota masyarakat dapat diciptakan,    misalnya dengan kelompok masyarakat pecinta lingkungan, pedagang dan melakukan survey, pengamata, serta wawancara dengan pedagang di pasar tradisional.
7)        Pengambilan keputusan dapat menjadi bagian kelas, khususnya pada saat siswa di ajak untuk melakukan inkuiri.[8] 

IV.             KESIMPULAN
Dari uraian makalah diatas, dapat disimpulkan bahwa, karakteristik IPS adalah atribut atau ciri khusus yang ada dalam IPS yang membedakan dari ilmu pengetahuan lainnys yang bersifat monolitik.
Karakteristik yang ada dalam IPS antara lain yaitu:
1.      Pengetahuan (Knowledge)
2.      Keterampilan (Skill)
3.      Nilai dan Sikap (Values and Attitudes)
4.      Tindakan (Action)

V.                PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat. Adapun makalah ini jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT. Untuk itu saran dan kritik selalu kami harapkan, dan semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan kita mengenai karakteristik IPS. Dan semoga dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi kita semua pada umumnya. Aamiin















DAFTAR PUSTAKA
Hamruni. 2009. Stategi dan Model-model Pembelajaran Aktif Menyenangkan. Yogjakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.
Samani, Muchlas dan Hariyanto. 2012. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sapriya. 2008. Pendidikan IPS, Bandung: Laboratorium PKn UPI.      




[1] Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, (Bandung: PT .Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 42.
[2] Sapriya, Pendidikan IPS, (Bandung:Laboratorium PKn UPI PRESS, 2008), hlm.31-35.
[3] Sapriya, Pendidikan IPS, (Bandung: Laboratorium PKn UPI PRESS, 2008), hlm.36.
[4] Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran Aktif Menyenangkan, (Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2009), hlm.195.
[5] Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran Aktif Menyenangkan,(Yogjakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2009), hlm.193.

[6] Sapriya, Pendidikan IPS, (Bandung:Laboratorium PKn UPI PRESS, 2008), hlm.37.
[7] Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran Aktif Menyenangkan, (Yogyakarta:Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2009), hlm.195.

[8] Sapriya, Pendidikan IPS, (Bandung: Laboratorium PKn UPI PRESS, 2008), hlm.38.